Sajak: "Sampai Tak Tau Waktu Kapan"

Sampai Tak Tau Waktu Kapan

Ahad pagi yang didera rintik hujan, diperumahan yang teduh. Mentari tak terlihat kala itu, sekejap khayalku terbidik padamu yang singgah direlung hati.
Entah sebab apa sejak hari lalu gundah menerpa. Terfikir putuskan tuk menjauh dari rasa ingin memilikimu sampai tak tau waktu kapan.
Dikeseharian, ku tak pandai bersua dan bersikap didepanmu, kerana ku takut bersalah dihadapan-Nya. Ku tak punya yang lebih dan bisa dibanggakan dibandingmu, kerana ku sering acuh dan khilaf terhadap perintah-Nya.



Ku harus menjauh dari rasa ingin memilikimu sampai tak tau waktu kapan.
Tapi pahamilah, itu semua bukan kerana rasaku padamu telah pergi, melainkan ku hendak berbenah memantaskan diri dan memohon dihadapan-Nya tuk izinkanku agar kelak hidup bersama menjadi imam yang baik untukmu.
Walau ku tak faham rasamu padaku. Walau ku tak tau maksud hatiku. Kuharap kau sangatlah sabar tuk tetap sendiri dan taat kepada-Nya sampai waktu jumpa.
Namun apabila diri-Nya berhendak lain, kala ditengah itu dating seorang yang lebih baik dariku hendak meminangmu, terimalah dia, jangan kau mengelak takdir-Nya.
Ketahuilah saat itu juga aku sudah relakan harapan cintaku dihadapan-Nya demi kebahagiaan hidupmu. Hingga kutemukan harapan cinta yang baru sampai tak tau waktu kapan…


Sentul, 180115
MH